Warning: include(../sisipan/kop.php) [function.include]: failed to open stream: No such file or directory in /www/110mb.com/a/l/k/a/t/u/n/i/alkatuni/htdocs/nufus/haur1.php on line 3

Warning: include(../sisipan/kop.php) [function.include]: failed to open stream: No such file or directory in /www/110mb.com/a/l/k/a/t/u/n/i/alkatuni/htdocs/nufus/haur1.php on line 3

Warning: include() [function.include]: Failed opening '../sisipan/kop.php' for inclusion (include_path='.:/usr/share/php') in /www/110mb.com/a/l/k/a/t/u/n/i/alkatuni/htdocs/nufus/haur1.php on line 3

Warning: include(../sisipan/linkup.php) [function.include]: failed to open stream: No such file or directory in /www/110mb.com/a/l/k/a/t/u/n/i/alkatuni/htdocs/nufus/haur1.php on line 7

Warning: include(../sisipan/linkup.php) [function.include]: failed to open stream: No such file or directory in /www/110mb.com/a/l/k/a/t/u/n/i/alkatuni/htdocs/nufus/haur1.php on line 7

Warning: include() [function.include]: Failed opening '../sisipan/linkup.php' for inclusion (include_path='.:/usr/share/php') in /www/110mb.com/a/l/k/a/t/u/n/i/alkatuni/htdocs/nufus/haur1.php on line 7

Warning: include(../sisipan/sskri.php) [function.include]: failed to open stream: No such file or directory in /www/110mb.com/a/l/k/a/t/u/n/i/alkatuni/htdocs/nufus/haur1.php on line 11

Warning: include(../sisipan/sskri.php) [function.include]: failed to open stream: No such file or directory in /www/110mb.com/a/l/k/a/t/u/n/i/alkatuni/htdocs/nufus/haur1.php on line 11

Warning: include() [function.include]: Failed opening '../sisipan/sskri.php' for inclusion (include_path='.:/usr/share/php') in /www/110mb.com/a/l/k/a/t/u/n/i/alkatuni/htdocs/nufus/haur1.php on line 11

Warning: include(../sisipan/calender.php) [function.include]: failed to open stream: No such file or directory in /www/110mb.com/a/l/k/a/t/u/n/i/alkatuni/htdocs/nufus/haur1.php on line 15

Warning: include(../sisipan/calender.php) [function.include]: failed to open stream: No such file or directory in /www/110mb.com/a/l/k/a/t/u/n/i/alkatuni/htdocs/nufus/haur1.php on line 15

Warning: include() [function.include]: Failed opening '../sisipan/calender.php' for inclusion (include_path='.:/usr/share/php') in /www/110mb.com/a/l/k/a/t/u/n/i/alkatuni/htdocs/nufus/haur1.php on line 15
.:TAZKIYATUN NAFS, PENYEJUK JIWA:.

Dipasang tanggal: 01 Februari 2007
AL HAUR BA'DA AL KAUR
Bagian 1
 
----------------------------------------
KategoriTazkiyatun Nafs
Penulis : -
Dikirim oleh : Abu Muslim alKatuniy
Sumber : milist As Sunnah
----------------------------------------

Sesungguhnya fenomena berpaling dari komitmen pada agama ini sungguh telah menyebar di kalangan kaum muslimin. Berapa banyak manusia mengeluh akan kerasnya hati setelah sebelumnya tentram dengan berdzikir pada Allah, dan taat kepada-Nya. Dan berapa banyak dari orang-orang yang dulu beriltizam (komitmen pada agama) berkata, "(Kini)Tidak aku temukan (lagi) lezatnya ibadah sebagaimana dulu aku merasakannya", yang lain bekata, "Bacaan al-qur’an tidak membekas dalam jiwaku", dan yang lain juga berkata, "Aku jatuh ke dalam kemaksiatan dengan mudah", padahal dulu ia takut berbuat maksiat.

Dampak penyakit ini nampak pada mereka, diantara ciri-cirinya adalah :
Pertama
Mudah terjatuh dan terjerumus dalam kemaksiatan dan hal-hal yang diharamkan (Allah), bahkan dia terus melakukannya padahal dahulu dia sangat takut terjerumus kedalamnya.
Kedua
Merasakan kerasnya hati, nasehat tentang kematian tidak berbekas sama sekali dalam hatinya, demikian juga melihat jenazah dan kuburan.
Ketiga
Tidak mantap dalam beribadah, sehingga anda (akan mendapati orang seperti ini) tidak menemukan "kelezatan" dalam menunaikan sholat, membaca al-Qur'an, dan lainnya, serta malas (melakukan) ketaatan dan ibadah, bahkan mengabaikannya dengan mudah, padahal ia dulu giat serta bersemangat melakukannya.
Keempat
Lalai dari berdzikir kepada Allah, serta tidak menjaga lagi dzikir-dzikir syar'iyah (seperti dzikir pagi dan petang, pent) padahal dulu ia giat dan bersemangat melakukannya.
Kelima
Memandang rendah kebaikan dan tidak perhatian kepada amal kebajikan yang mudah dilakukan padahal dulu dia orang yang paling teguh dan rajin.
Keenam
Selalu dibayangi oleh rasa takut pada waktu tertimpa musibah atau problematika, padahal dulu ia tegar serta teguh imannya kepada takdir Allah.
Ketujuh
Hatinya cenderung kepada dunia dan sangat mencintainya hingga ia akan merasa sangat sedih sekali jika ada sesuatu dalam kehidupan dunia ini yang luput darinya, padahal dulu ia sangat terikat kepada akhirat dan kepada kenikmatan yang ada di dalamnya. Allah Ta'ala telah berfirman :
"Tetapi kalian memilih kehidupan dunia, sedang kehidupan akherat adalah lebih baik dan lebih kekal." ( al-A?la : 16-17 )
Kedelapan
Terlalu berlebihan dalam memperhatikan kehidupan dunianya baik dalam masalah makan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan kendaraan, padahal dulu ia lebih mengutamakan untuk mempercantik akhlaqnya dan untuk komitmen serta berpegang teguh pada agama.

Masih banyak lagi sebenarnya dampak penyakit ini.
Dan sungguh Nabi Sholallahu'alaihi wasalam telah berlindung dari al-Haur ba'da al Kaur.
Dari 'Abdullah bin Sarjas Radhiyallohu 'anhu ia berkata, "Rasulullah Sholallahu'alaihi wasalam jika bepergian berlindung dari kesukaran perjalanan, kesedihan saat kembali dan dari al-Haur ba'da al Kaur (lemah/malas dalam beribadah setelah dulunya semangat/rajin).
Dalam riwayat at-Tirmidzi :"... dan dari al haur ba'da al kaur..".
Berkata Imam Nawawi: "Kedua hadits ini adalah hadits yang disebutkan oleh para ahli hadist, ahli bahasa dan ahli gharibul hadits/lafadh asing dalam hadits." (Syarh Muslim 9/119)

Lalu Apakah Makna al-Haur Ba'da al-Kaur?
Ibnul Faris berkata :"al-Haur" artinya adalah : kembali, Allah berfirman : "Sesungguhnya ia menyangka bahwa ia sekali-kali tidak akan kembali, tetapi tidak..." (al-Insyqaaq : 14).
Orang Arab berkata : Maknanya kebatilan itu kembali dan berkurang. Jika dikatakan :"Kami berlindung kepada Allah dari al haur.
Makna al-Haur adalah berkurang setelah bertambah. (Mu'jamu Maqayis al-Lughah 2/117).
Ibnu Mandzur menjelaskan dalam "Lisanul 'Arob" (4/217), ia berkata : "Dan dalam hadits : “Kami berlindung kepada Allah dari al Haur setelah al Kaur” Maknanya adalah dari berkurang setelah bertambah, atau dari kerusakan urusan kami setelah kebaikan.
At-Tirmidzi menafsirkan dengan perkataannya : "Dan makna perkataannya : al-Haur ba'da al-Kaun atau al-Kaur, kedua kata itu (al-Kaun dan al-Kaur) mempunyai satu arti, yaitu kembali/berpaling dari keimanan menuju kekafiran, dari ketaatan menuju kemaksiatan.?" (Sunan at-Tirmidzi 498/5)

Kalau begitu, makna al Haur ba'da al Kaur adalah:
Perubahan keadaan manusia dari iman kepada kekafiran, atau dari takwa dan kebaikan kepada perbuatan rusak dan buruk, atau dari hidayah kepada kesesatan. Dan dalam hal ini manusia berbeda-beda tingkatannya, maka jika seseorang mundur/berpaling ke belakang dikhawatirkan ia menutup akhir kehidupannya dengan hal yang buruk.

Dan satu hal yang telah diketahui bahwa amal-amal (seseorang) dilihat pada akhir kehidupannya, dari Sahl bin Sa'ad Radhiyallohu 'anhu, bahwa Nabi Sholallahu'alaihi wasalam bersabda :
"Sesungguhnya seorang laki-laki dulunya beramal dengan amal penghuni neraka, dan sesungguhnya ia adalah penghuni surga, dan ia dulu mengerjakan amalan penghuni surga, padahal ia adalah penghuni neraka, sesungguhnya amal-amal itu (tergantung) pada akhirnya."(HR. al-Bukhari 6607)
Dari Abu Hurairah Radhiyallohu 'anhu bahwa Rasulullah Sholallohu 'alaihi wa alihi wa salam berkata :
"Sesungguhnya ada seseorang yang dia beramal dengan amalan penghuni surga dalam jangka waktu yang lama tapi diakhir hayatnya dia melakukan perbuatan penghuni neraka dan ada juga orang yang dahulunya berbuat perbuatan penghuni neraka tapi dia akhiri hidupnya dengan perbuatan penghuni surga." (HR. Muslim 2651 dan Ahmad).

Nash-nash hadits diatas dan selainnya menerangkan kepada kita bahwa yang paling menentukan amal seseorang itu bukan dari apa yang dilakukannya semasa hidupnya tetapi dalam keadaan bagaimana ia mengakhiri hidupnya. Oleh karena itu pembahasan masalah ini sangat penting sekali, jangan sampai ada seseorang diantara kita yang mengira ia telah sukses melalui jembatan dan sampai di daratannya dengan aman disebabkan komitmennya terhadap agama, serta selamat dari kesesatan dan dari al Haur ba'dal Kaur.
Keteguhan/kekokohan hanya dari Allah semata. Allah menguatkan/meneguhkan Nabi Sholallahu'alaihi wasalam-Nya, Dia berfirman :
"Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka." (al-Isra' : 74)
Oleh karena itu Rasulullah Sholallahu'alaihi wasalam mengajarkan kepada kita agar kita memohon pertolongan kepada Allah Ta'ala agar Dia mengokohkan kita diatas agama Islam, beliau Sholallahu 'alaihi wasalam bersabda: "Wahai yang meneguhkan hati, teguhkanlah hati kami diatas agama-Mu”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Dan sering kali beliau Sholallahu'alaihi wasalam berkata tatkala bersumpah : "Tidak, demi Dzat Yang Membolak-balikkan hati." (HR al-Bukhari 7391)

Diantara doa Nabi Sholallahu'alaihi wasalam :
"Wahai yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami untuk taat kepadamu."(HR Muslim 2654).

Seorang yang beriman harus berusaha memeriksa hatinya dan mengetahui penyakit serta penyebab sakit hatinya, dan berusaha untuk mengobatinya sebelum hatinya menjadi keras dan akhir hidupnya menjadi jelek.

Maka Apa Penyebab al-Haur Ba’dal Kaur ? Apa Obatnya ?
Sebab-sebab al-Haur ba'dal Kaur adalah :
1. Lemah Iman.
Lemah iman adalah penyebab kerasnya hati, mudah jatuh dalam kemaksiatan dan malas dari ketaatan, tidak mendapatkan pengaruh dari (membaca) al-Qur’an dan shalat. Lemah iman juga mengurangi rasa takut dia kepada Allah Ta'ala. Lemah iman juga penyebab banyaknya terlibat debat dan berbantah-bantahan, tidak adanya perasaan merasa bertanggung jawab kepada Allah Ta'ala dan beberapa fenomena lainnya.
Hal ini juga disebabkan sikap menjauh dari teman yang shalih serta majelis ilmu, dan tersibukkan dengan urusan-urusan dunia serta panjang angan-angan, dan terjerumus dalam hal-hal yang di haramkan. Maka apabila iman seseorang lemah, maka berubahlah keadaannya, dari hal yang baik dan istiqamah menjadi tersesat dan berpaling. Maka suatu keharusan (bagi seorang muslim yang merasakan lemahnya iman) untuk mengobatinya.
Caranya adalah dengan ikhlas (kepada Allah) dan membaca serta merenungkan al-Qur’an kemudian takut kepada (siksaan) Allah Ta'ala dan bertaubat dari dosa, kemaksiatan, takut terhadap akhir kesudahan yang buruk serta mengingat mati dan akhirat.

2. Jauh Dari Suasana Yang Penuh Dengan Keimanan
Seperti majelis ilmu, masjid, al-Qur'an, teman yang shalih, shalat malam, dzikir dan lainnya. Jauh dari suasana yang penuh keimanan ini akibatnya adalah berbalik ke belakang (kembali kepada kemaksiatan). Maka apabila seseorang jauh dari temannya yang shalih dalam waktu yang lama lantaran bepergian jauh atau suatu tugas atau semisalnya ia akan kehilangan suasana yang penuh keimanan yang mengakibatkan lemahnya iman dan tidak iltizam lagi, apabila ia tidak segera memperbaiki jiwanya.
Berkata al-Hasan al-Basri : "Teman-teman kita lebih mahal (nilainya) dibanding dengan keluarga kita, (hal ini disebabkan) karena keluarga kita hanya mengingatkan kita kepada dunia, sedangkan teman-teman kita mengingatkan kita kepada akhirat".
Maka selayaknya seorang muslim menjaga komitmennya terhadap agama dengan cara bersungguh-sungguh dan berusaha menjumpai lingkungan yang penuh keimanan.

3. Pengaruh Lingkungan (Yang Jelek)
Jika seorang yang beriltizam berada di tengah lingkungan yang jelek, yaitu ia hidup bercampur dengan manusia yang bangga dengan kemaksiatan yang dilakukannya dan asyik berdendang dengan lagu-lagu & nyanyian, merokok, membaca majalah (porno), lidahnya menggunjing & mencela orang yang beriman, dan apabila ia menghadiri suatu majlis undangan atau acara pernikahan (dikalangan mereka), didapatinya kemungkaran, pembicaraan-pembicaraan mengenai perdagangan, jabatan, harta serta masalah-masalah dunia yang mengakibatkan terjatuhnya hati dalam cinta yang mendalam pada dunia, jika demikian keadaannya maka hati berubah menjadi keras, dan akhirnya berbalik dari komitmen terhadap agama dan kebaikan kepada cinta dunia dan kemaksiatan.
Dan apabila ia diuji dengan harta, dengan istri yang lemah imannya atau anak-anak yang sama dengan ibunya dia tidak mampu teguh bahkan mundur dan meninggalkan kebaikan dan keistiqomahan. Jika dia berkumpul dengan keluarga, tetangga dan teman-temannya yang jelek, mendengar kata-kata yang menyakitkan, ejekan, dan mendapatkan nasehat-nasehat yang menghalanginya untuk beriltizam, maka akibatnya ia mundur dari beriltizam dan berbalik hingga merugi di dunia dan di akhirat.

4. Lemah Dalam Pendidikan Yang Benar (Sesuai Agama)
Jika seorang muslim tidak menjaga dirinya dengan pemeliharaan, pendidikan dan perjuangan, ia akan mundur dan berbalik. Maka ia harus meluangkan waktunya sesaat untuk bertaqarrub/ mendekatkan diri kepada Allah, menginstropeksi dirinya, mohon ampun dan bertaubat. Dan ia harus meluangkan waktu untuk mendapatkan ilmu agama, mempelajarinya, membacanya dan mengulangi pelajarannya. Dan ia harus meluangkan waktunya sesaat untuk berdakwah, sesaat untuk berdzikir dan membaca al-Qur'an, hingga ia dapat menjaga amalannya itu.

5. Memandang Remeh Dosa-Dosa Dan Perbuatan Maksiat
Abdullah bin Mubarak Rahimahulloh berkata :
"Aku melihat dosa-dosa itu mematikan hati, Mengerjakannya terus-menerus menimbulkan kehinaan Adapun meninggalkan dosa adalah kehidupan bagi hati.Dan mendurhakai dosa adalah baik bagi jiwamu"

Ibnul Qayyim Rahimahulloh berkata :
"Sesungguhnya diantara dampak negatif dosa adalah melemahkan perjalanan hati (seseorang) menuju negeri akhirat atau menghalanginya atau memutuskannya dari perjalanan itu. Dan kadang kala dosa juga bisa memutar balikkannya ke arah belakang (maksiat dan kekufuran). Hati itu akan berjalan menuju Allah dengan kekuatannya, jika hati itu sakit lantaran dosa-dosa lemahlah kekuatan yang menjalankannya". (al-Jawabul Kahfi hal 140).

Meremehkan dosa-dosa akan berdampak buruk bagi seseorang, diantaranya menyebabkan bertambahnya dosa, menjauhkan seseorang dari jalan taubat, dan mengajak untuk tidak menjauh dari pelaku dosa. Lalu ia akan asyik bersahabat dan duduk bersama mereka (para pelaku dosa dan maksiat). Bahkan dosa-dosa tersebut mengajaknya untuk menjauh dari orang shalih dan bertaqwa. Dan ini adalah penyebab utama seseorang tidak istiqomah di atas jalan yang lurus.

6. Tertipu Dan Kagum Terhadap Diri Sendiri
Tidak diragukan lagi bahwa menghadiri majelis ilmu dan berteman dengan orang shalih menunjukkan bahwa pada diri orang tersebut terdapat kebaikan, akan tetapi jika telah masuk perasaan tertipu dan bangga terhadap diri sendiri maka hal ini akan memberi pengaruh jelek terhadap pelakunya. Jika sudah demikian, ia akan merasa telah sempurna dan tidak merasa butuh berbuat kebaikan dan beramal shalih lagi. Dan jika seseorang telah kagum terhadap dirinya sendiri maka akan hilang dari dirinya perasaan takut terhadap akhir kesudahan yang jelek dan ia akan merasa aman terhadap kesesatan setelah mendapatkan petunjuk. Hal ini merupakan tanda lemahnya hati dan penyebab seseorang itu mundur kebelakang tidak istiqamah lagi.
Jika seseorang kagum terhadap dirinya ia akan tersibukkan dengan mencari aib-aib orang lain dan menyepelekan untuk memperbaiki aib dalam dirinya. Maka seseorang harus mengobati jiwanya dengan membuang rasa bangga terhadap diri sendiri kemudian bersikap tawadhu', takut serta memperbaiki aibnya dan bertaubat kepada Allah Ta'ala.

7. Berteman Dengan Orang-Orang Jahat
Seorang teman mempunyai peranan penting dalam membentuk serta mempengaruhi kepribadian sahabatnya. Jika seorang teman melihat film-film dan majalah-majalah yang memberikan mudharat/bahaya (bagi agamanya), mendengarkan lagu-lagu dan musik, maka ia akan mempengaruhi sahabatnya. Dan terkadang hal-hal yang dilakukan temannya menyelisihi syariat agama tapi ia berbasa-basi dan tidak mengingkarinya, terkadang ia melihat temannya tidak taat beribadah dan meninggalkan sunnah-sunnah Nabi Sholallahu'alaihi wasalam, maka ia pun terpengaruh dan meninggalkan keistiqamahannya. Oleh karena itu seseorang harus memilih teman yang shalih yang membantunya untuk taat kepada Allah, dalam hadits yang shahih disebutkan bahwa : "Seseorang itu mengikuti agama temannya, maka hendaknya seseorang melihat siapa temannya".

8. Ada sebab-sebab lainnya yang menyebabkan seseorang meninggalkan keistiqomahan, di antaranya :
  1. Lemahnya kesungguhan dalam berpegang teguh (terhadap agama) dan tidak sabar atas kesulitan-kesulitan dan musibah yang menimpanya.
  2. Panjang angan-angan, berlebih-lebihan dalam menerapkan hukum agama terhadap dirinya diluar batas kemampuan (ekstrim).
  3. Penyakit-penyakit hati dan lisan yang menimpanya.
  4. Kepribadian yang lemah dan sikap selalu mengekor kepada orang lain.
  5. Kegagalan-kegagalan yang menimpa pada masa lalu dan dia sulit keluar darinya.
Bersambung ke bagian 2

Warning: include(../sisipan/ssknn.php) [function.include]: failed to open stream: No such file or directory in /www/110mb.com/a/l/k/a/t/u/n/i/alkatuni/htdocs/nufus/haur1.php on line 139

Warning: include(../sisipan/ssknn.php) [function.include]: failed to open stream: No such file or directory in /www/110mb.com/a/l/k/a/t/u/n/i/alkatuni/htdocs/nufus/haur1.php on line 139

Warning: include() [function.include]: Failed opening '../sisipan/ssknn.php' for inclusion (include_path='.:/usr/share/php') in /www/110mb.com/a/l/k/a/t/u/n/i/alkatuni/htdocs/nufus/haur1.php on line 139
  Islam, Al Qur'an, Sunnah, Hadits, Aqidah, Salaf, Salafi, Manhaj, Ulama, Imam, Fiqh, Ibadah, Biografi, Muslim, Syarh Hadits, Artikel Islam, Keutamaan Al Qur'an, kesesatan, Aqiqoh, kurban, hari raya, idul fitri, idul adha, kitab, aliran sesat, jamaah, firqoh, download, kajian, bantahan, ahlus sunnah, ikhwan, akhwat, dauroh, jadwal kajian, alkatuni, alkatuny, faedah, pemahaman, salam, ucapan, doa, akhlaq, adab, muamalah, nasihat, kritikan, ilmu, pengetahuan, filsafat, kalam, Imam Syafi'i, Ahmad, Nabi, Rosululloh, Muhammad, sahabat, jihad, fisabilillah, tebusan, mahar, pernikahan, talak, cerai copyright: www.alkatuni.110mb.com
AOL users: Link Back to CO.NR Tutorial
Kagunganipun: Abu Muslim
Sent your Messages to My Email or Messenger
Karawang, Februari 2007
bid'ah, ahlul bid'ah, mubtadi', penuntut ilmu, kalam, tafsir, Albani, Muqbil, Syaikh, riwayat, sanad, matan, Ibnu Baz, Ustaimin, Ali, Hasan, Salim, Alloh, surga, neraka, kubur, adzab, siksa, nikmat, masjid, kuburan, fatwa, shohih, dhoif, palsu, fadhoil, jamak, qoshor, makruh, halal, harom, sunnah, mubah, kekal, jannah, shirot, kunyah, teroris, fitnah, haidh, nifas, keluarga, sakinah, menikah, barokah, tauhid, amalan, amal, pahala, dosa, kafir, musyrik, shodaqoh, zakat, infaq, dirham, dinar, takaran, syetan, jin, iblis, dzikir, qolbu, Syar'i, syariat, kewajiban, suami, istri, jima', budak, anak yatim